Pendakian Gunung Guntur 2249 Mdpl Via Jalur Citiis
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Jadi kali ini aku bakal cerita pengalaman aku mendaki gunung. Yups! Gunung guntur yang kali ini jadi topik cerita kita. Gaperlu lama-lama, langsung aja deh yuk cerita.
Pertama-tama, kita kenalan dulu nih sama gunung satu ini!
Gunung Guntur adalah gunung berapi bertipe stratovolcano yang terdapat di Sirnajaya, Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan memiliki ketinggian 2.249 meter dpl. Gunung Guntur pernah menjadi gunung berapi paling aktif di pulau Jawa pada dekade 1800 an. Tapi sejak itu aktivitasnya kembali menurun.
Gunung Guntur berdekatan dengan gunung-gunung lainya yang mengelilingi kota Garut. Di sebelah selatan Gunung Guntur, ada Gunung Putri yang berhadapan dengan Gunung Cikuray dan Gunung Papandayan, kemudian di sebelah barat ada Gunung Masigit, Gunung Parupuyan, dan gunung lainnya. Gunung Guntur sendiri mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Pendakian
Yang mau aku ceritain kali ini pendakian di bulan September 2018. Bermula dari ajakan teman yang yang lagi gabut mendadak di satu grup WhatsApp, dari situ lah kita bergerak.
Awalnya sih aku cuma iseng aja jawab pertanyaan dia yang nanya "Ada yang mau nanjak gak minggu ini?" niat bercanda, aku bales "Hayok bang. Mau kemana nih?" tapi ternyata doi nanggepin serius gaes hahaha. Alhasil kita deal untuk prepare besok pagi dan jalan sore harinya.
Perjalanan dari Jakarta sampai Garut memakan waktu 4-5 jam. Karena sampai di basecamp sudah malam, kami memilih istirahat dan mulai pendakian pagi hari. Di basecamp kami ngobrol ngalor ngidul sama Mang Asep dan Pak RT.
Esok pagi, sebelum berangkat kami mengisi formulir simaksi untuk di serahkan di pos 1 dan pos 3. Dari basecamp sampai di pos 1 kita akan disuguhkan trek pasir bekas pertambangan dengan bukit-bukit yang cukup tinggi. Di sepanjang jalur ini nggak ada pohon yang rindang. Jadi kalau cuaca cerah kita bisa lihat view kota Garut yang ciamik. Tapi memang agak panas kalau pendakian kita pas kemarau. Dari basecamp sampai pos 1 memakan waktu sekitar 45 menit sampai satu jam.
Next mulai masuk hutan. Disini treknya bisa dibilang paling menyenangkan. Oiya, di sepanjang jalur pendakian ini banyak banget warung loh gaes. Gak takut deh buat kelaparan dan kehausan. Sebelum pos 1 atau pos laporan, kita milih untuk break makan dan ngopi juga tidur pagi.
Setelah istirahat, kita memutuskan untuk lanjut treking setelah sholat Dzuhur. Jadi waktu tidur itu sekitar 3-4 jam haha. Next, kita laporan di pos 1 dgn menyerahkan formulir yang sudah di isi saat di basecamp dengan jaminan ktp leader tim.
Karena sudah masuk hutan, perjalanan jadi lebih ringan karena nggak terik seperti trek awal. Setelah berjalan sekitar 15-20 menit, kita akan ketemu aliran sungai dari Curug Citiis. Kalian bisa membersihkan badan atau sekedar membasuh muka yang kelelahan. Suegeeeeerrrr. Tapi hati-hati sama bawaan yaa!
Setelah lewat sungai, disini lah gregetnya jalur Citiis. Kita bakal lewatin trek yang bikin dengkul lemes. Yaps! Trek batu. Di trek ini kita dituntut lebih hati-hati dan punya tenaga ekstra. Karena pijakan antara batu satu dengan yang lain cukup tinggi. Kemiringan jalur ini hampir 70°. Kalau lagi musim kemarau, jalur ini berdebu banget. Dan kalau musim hujan licin luar biasa. Tapi sebelum trek batu, lagi-lagi kita memilih untuk tidur. Banyak pendaki lain yang menyapa dan geleng-geleng kepala liat kita berempat. Habis lah waktu sekitar 1 jam 30 menit kita tidur.
Lanjut lah kita jalan sekitar pukul 2. Karena teman ku ini tahu jalur lama yang udah mulai ketutup, kita putuskan untuk buka jalur di jalur lama itu untuk sedikit ngurangin trek batu tadi. Normalnya trek batu itu bisa dilewatin selama 60-90 menit. Tapi, dengan buka jalur tadi kita lewat trek batu cuma sekitar 45-50 menit (tanpa istirahat tidur). Tapi kalau nggak tau jalur lama, disarankan nggak buka jalur yaa. Tetap utamakan keselamatan!
Setelah jalur batu, kita akan lewat jalur pasir sampai di pos 3. Sepanjang jalur ini panas karena tidak ada pepohonan, yang ada hanya padang ilalang yang luas. Disarankan jika pendakian siang kalian membawa topi dan sejenisnya untuk melindungi dan sedikit mengurangi sinar matahari menyentuh langsung kulit kalian. Di pos 3 ini lah tempat kita bisa mendirikan camp. Disini sekarang sudah banyak fasilitasnya seperti mushollah, wc, dan juga tersedianya air yang berlimpah.
Singkat cerita, setelah bermalam, kita memutuskan summit jam 3.30. Gunung Guntur punya 4 puncak. Yang masing-masing punak punya kesulitan, resiko dan estimasi yang berbeda. Dari pos 3 ke pincak 1 memakan waktu sekitar 60-90 menit. Dari puncak 1 ke puncak 2 sekitar 20-30 menit. Dari puncak 2 ke puncak 3 sekitar 30 menit, dan dari puncak 3 ke puncak 4 sekitar 30-45 menit.
Jalur yang di lalui menuju puncak cukup extreme, berpasir halus sampai besar. Maklum saja, Guntur memang gunung berapi. Karenanya banyak yang menjuluki Gunung Guntur sebagai "Miniaturnya Semeru". Jika cerah, dari Puncak 1 kita sudah bisa melihat view Gunung Cikuray dengan lautan awannya yang mempesona.
Okey, sekian cerita pendakian Gunung Guntur kali ini. Semoga nggak boring yaa bacanya. Terakhir, untuk kalian yang ingin mendaki gunung Guntur disarankan untuk siapkan tenaga ekstra yaa. Semoga tulisan tadi bisa sedikit mencerahkan pikiran kalian yang ingin ke gunung ini.
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar