Senin, 07 Januari 2019

BAB 9 MANAJEMEN FUNGSIONAL

Manajemen fungsional adalah sebuah bentuk supaya kontribusi dalam suatu departemen dapat bertahan pada tingkatan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.


Manajemen Fungsional

10.1. Pengertian Manajemen Fungsional
Pengertian dari fungsi adalah suatu klasifikasi yang menunjuk pada sekelompok akktivitas serupa dalam suatu organisasi seperti pemasaran. Pengertian fungsional adalah sesuatu hal yang di rancang untuk mampu melakukan satu atau lebih kegiatan yang practical, lebih mengutamakan fungsi dan kebergunaan daripada hal-hal yang bersifat dekorasi atraktif.
Manajemen fungsional adalah untuk mempertahankan kontribusi departemen pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sumber daya manusia menjadi tidak berharga jika manajemen sumber daya manusia memiliki kriteria yang lebih rendah dari tingkat kebutuhan organisasi.

10.2. Aktivitas Manajemen Fungsional
Manajemen fungsional dilihat dari pendekatan manajemen klasik terdiri dari dan merupakan fungsi – fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengimplementasian dan pengendalian dan pengawasan, secara garis besar sudah di bahas di bab 8.

10.2.1. Perencanaan
Perencanaan secara garis besar diartikan sebagai proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkann rencana aktivitas kerja organisasi.
Definisi perencanaan adalah Pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa.

Dalam manajemen perencanaan adalah sebuah patokan untuk mempermudah menejer agar tercapainya sebuah tujuan, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain—pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan—tak akan dapat berjalan
Perencanaan yang baik mempertimbangkan :
1.      Kondisi mendatang
2.      Kegiatan yang akan dilaksanakan
3.      Periode sekarang rencana dibuat

Kebutuhan perencanaan berada pada semua tingkatan organisasi. Manajemen puncak mengarah pada perncanaan jangka panjang dan strategi-strategi organisasi, dan manajemen bawah mengarah pada perencanaan jangka pendek dan pada kelompok kerja/unit
Perencanaan merupakan suatu proses yang tidak berakhir dan akan dikembangkan perencanaan kembali, jadi perencanaan bersifat “ fleksibilitas, aktif, dinamis, berkesinambungan dan kreatif “ di sesuaikan dengan tujuan organisasi dan perkembangan bisnis.

Aspek penting dalam perencanaan :
1.      Pembuatan keputusan
2.      Proses pengembangan dan
3.      Penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan masalah

10.2.1.1. Tujuan Perencanaan
Tujuan dari perencanaan menurut Stephen Robbins dan Mary Coulter  adalah  
  1. Memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efesien.
  2. Mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya.
  3. Meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan inefesiensi dalam perusahaan.
  4. Menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevalusasian. Proses pengevaluasian atau evaluating adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada. Tanpa adanya rencana, manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan.

10.2.1.2. Elemen Perencanaan,
Elemen perencanaan terdiri dari dua, yaitu sasaran dan rencana itu sendiri.
a.       Sasaran
Sasaran adalah hal yang ingin dicapai oleh individu, grup, atau seluruh organisasi. Sasaran sering pula disebut tujuan, sasaran memandu manajemen membuat keputusan dan membuat kriteria untuk mengukur suatu pekerjaan.
Sasaran dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
1.      Sasaran yang dinyatakan (stated goals). Stated goals adalah sasaran yang dinyatakan organisasi kepada masyarakat luas. Sasaran seperti ini dapat dilihat di piagam perusahaan, laporan tahunan, pengumuman humas, atau pernyataan publik yang dibuat oleh manajemen. Seringkali stated goals ini bertentangan dengan kenyataan yang ada dan dibuat hanya untuk memenuhi tuntutan stakeholder perusahaan.
2.      Sasaran riil adalah sasaran yang benar-benar dinginkan oleh perusahaan. Sasaran riil hanya dapat diketahui dari tindakan-tindakan organisasi beserta anggotanya.

Ada dua pendekatan utama yang dapat digunakan organisasi untuk mencapai sasarannya.
1.      Pendekatan tradisional. Pada pendekatan ini, manajer puncak memberikan sasaran-sasaran umum, yang kemudian diturunkan oleh bawahannya menjadi sub-tujuan (subgoals) yang lebih terperinci. Bawahannya  kemudian menurunkannya lagi kepada anak buahnya, dan terus hingga mencapai tingkat paling bawah. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa manajer puncak adalah orang yang tahu segalanya karena mereka telah melihat gambaran besar perusahaan. Kesulitan utama terjadi pada proses penerjemahan sasaran atasan oleh bawahan. sehingga bawahan kesulitan menerjemahkan sasaran yang sudah ditetapkan dan akhirnya salah mengintepretasi maksud sasaran .
2.      Pendekatan management by objective atau MBO. Pada pendekatan ini, sasaran dan tujuan organisasi tidak ditentukan oleh manajer puncak saja, tetapi juga oleh karyawan. Manajer dan karyawan bersama-sama membuat sasaran-sasaran yang ingin mereka capai. Dengan begini, karyawan akan merasa dihargai sehingga produktivitas mereka akan meningkat. Tapi terdapat beberapa kelemahan dalam pendekatan MBO. Pertama, negosiasi dan pembuatan keputusan dalam pendekatan MBO membutuhkan banyak waktu, sehingga kurang cocok bila diterapkan pada lingkungan bisnis yang sangat dinamis. Kedua, adanya kecenderungan karyawan untuk bekerja memenuhi sasarannya tanpa memedulikan rekan sekerjanya, sehingga kerjasama tim berkurang.

b.      Rencana
Rencana atau plan adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan. Rencana biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi penggunaannya.
  1. Berdasarkan cakupan, rencana dapat dibagi menjadi rencana strategis dan rencana operasional.
·         Rencana strategis adalah rencana umum yang berlaku diseluruh lapisan organisasi
·         Rencana operasional adalah rencana yang mengatur kegiatan sehari-hari anggota organisasi.
  1. Berdasarkan jangka waktu, rencana dapat dibagi menjadi rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek.
·         Rencana jangka panjang umumnya didefinisikan sebagai rencana dengan jangka waktu tiga tahun,
·         Rencana jangka pendek adalah rencana yang memiliki jangka waktu satu tahun.
·         Sementara rencana yang berada di antara keduanya dikatakan memiliki intermediate time frame.
  1. Menurut kekhususan, rencana dibagi menjadi rencana direksional dan rencana spesifik.
·         Rencana direksional adalah rencana yang hanya memberikan guidelines secara umum, tidak mendetail. Rencana seperti ini sangat fleksibel, namun tingkat ambiguitasnya tinggi.
·         Rencana spesifik adalah rencana yang secara detail menentukan cara-cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan.
  1. Rencana berdasarkan frekuensi penggunan, yaitu single use atau standing.
·         Single-use plans adalah rencana yang didesain untuk dilaksanakan satu kali saja.
·         Standing plans adalah rencana yang berjalan selama perusahaan tersebut berdiri, yang termasuk di dalamnya adalah prosedur, peraturan, kebijakan, dan lain-lain.

10.2.1.3. Jenis Rencana
Organisasi menggunakan dua rencana utama yaitu : (1) Rencana strategic, (2) Rencana operasional. Rencana operasional tumbuh dari rencana strategic dan pernyataan misi, terdapat empat pokok perbedaan antara rencana strategic dan operasional :
1.      Horison waktu
2.      Ruang lingkup
3.      Kerumitan dan dampak
4.      Ketidaktergantungan

10.2.1.4. Tahap Dasar Perencanaan
Tahap Dasar Perencanaan terdiri dari empat tahap, yaitu :
Tahap 1           : Menetapkan keadaan saat ini
Tahap 2           : Merumuskan keadaan saat ini
Tahap 3           : Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan
Tahap 4           : Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk
   pencapaian tujuan


10.2.1.5. Hubungan Perencanaan Dengan Fungsi Manajemen
Perencanaan adalah fungsi yang paling dan meresap ke seluruh fungsi - fungsi Manajemen ; Saling berhubung, Saling tergantung dan berinteraksi.

Bagaimana perencanaan dihubungkan dengan fungsi manajemen
Contoh hubungan :
ü  Proses pengaturan kerja bersama sumber daya organisasi
ü  Penyusunan personalia
ü  Penerapan dan menentukan kombinasi dari factor, kekuatan, sumber daya dan hubungan mengarahkan dan memotivasi karyawan
ü  Pengawasan sebagai kreteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana

Menurut Donald C. Mosley dan Paul H. Pietri : The Art Of Working With And Through People, 1975. Perencanaan dan pengawasan saling berhubungan erat ; Dalam Manajemen disebut “ Kembar Siam “
Tujuan setiap rencana adalah membantu sumber daya dalam kontribusinya secara positif terhadap pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Para manajer harus dapat menentukan hubungan-hubungan organisasi, kualifikasi personalia, bagaimana bawahan diarahkan dan cara pengawasan yang diterapkan.


10.2.2. Pengorganisasian
Definisi organisasi dalam arti umum merupakan sekumpulan atau sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan untuk bekejasama dengan pembagian atau alokasi tugas dan tanggung jawab tertentu dalam system koordinasi,  kooperatif, dorongan-dorongan, dan pengaturan guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan.
Definisi pengorganisasian adalah langkah untuk merancang struktur formal, menetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok, wewenang dan pendelegasian wewenang oleh oleh pemimpin kepada staf dalam rangka mencapai tuuan organisasi dalam efisiesi.
Organisasi sebagai “ proses pengorganisasian”, yaitu proses penyusunan struktur formal, mengelompokan, mengatur dan menbagi tugas-tugas pekerjaan diantara para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien dan sesuai dengan sumber daya dan lingkungan organisasi

Istilah pengorganisasian dapat digunakan untuk hal-hal :
1.      Cara Manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya organisasi.
2.      Bagaimana organisasi mengelompokan kegiatan-kegiatan organisasi dan penugasan seorang manajer.
3.      Hubungan-hubungan antara fungsi, jabatan, tuagas dan para karyawan.
4.      Cara para manajer membagi lebih lanjut tugas yang harus dilaksanakan dalam departemennya dan delegasi wewenang untuk mengerjakan tugas tersebut.

10.2.2.1. Proses Pengorganisasian
Menurut Ernest Dale “ Organization “ tiga langkah pengorganisasian :
1.      Perincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi
2.      Pembagian beban pekerjaan total secara logika dapat dilaksanakan oleh satu orang.
3.      Pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinakan pekerjaan para anggota organisasi menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.

Aspek-aspek organisasi dan proses pengorganisasian :
1.      Pembagian kerja
2.      Departementalisasi
3.      Bagan organisasi formal
4.      Rantai perintah dan kesatuan perintah
5.      Tingkat hirarki manajemen
6.      Saluran komunikasi
7.      Penggunaan komite
8.      Rentang Manajemen dan kelompok informal yang tak dapat dihindarkan

10.2.2.2. Tujuan Pengorganisasian
Tujuan pengorganisasian adalah tugas - tugas yang diberikan kepada anggota organisasi dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan diharapkan dengan tugas setiap anggota organisasi dapat meningkatkan keterampilannya secara khusus dalam menangani tugas – tugas yang dibebankan.
Tujuannya adalah :
  1. Membantu koordinasi
  2. Memperlancar pengawasan
  3. Maksinalisasi manfaat
  4. Penghematan biaya
  5. Meningkatkan kerukunan

10.2.2.3. Struktur Organisasi
Struktur organisasi menggambarkan “ Mekanisme-mekanisme formal organisasi dikelola”, Kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara fungsi, bagian, posisi, dan orang-orang yang menunjukan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi.
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit kerja) dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahan dalam menjalin kegiatan oprasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi menunjukan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan. Pekerjaan dibagi, dikelompokan dan dikordinasikan (integrasi) secara formal

10.2.2.4. Perancangan Struktur Organisasi
Faktor-faktor penentu perancangan struktur organisasi :
1.      Strategi organisasi
2.      Teknologi yang digunakan
3.      Anggota dan orang-orang yang terlibat
4.      Ukuran organisasi

Unsur-unsur struktur organisasi
1.      Spesialisasi kerja
2.      Standarisasi
3.      Koordinasi
4.      Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan
5.      Besaran/ukuran satuan kerja

10.2.2.5. Bagan Organisasi
Bagan organisasi membentuk struktur organisasi, bagan organisasi adalah bagan yang memperlihatkan adanya saling keterkaitan berbagai posisi pada suatu organisasi dalam pengertian wewenang dan tanggung jawabnya, pada dasarnya terdapat tiga pola organisasi, yaitu organisasi lini, organisasi fungsional, dan organisasi lini dan staff
Bagan organisasi menggambarkan lima aspek utama struktur organisasi :
1.      Pembagian kerja
2.      Manajer dan bawahan (rantai perintah)
3.      Tipe pekerjaan yang dilaksanakan
4.      Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan
5.      Tingkatan manajemen
Keuntungan bagan organisasi
1.      Memberikan gambaran bagaimana organisasi disusun
2.      Manajer, bawahan dan tanggung jawab digambarkan dengan jelas
3.      Untuk menangani masalah khusus
4.      Menunjukan posisi seseorang dapat ditemukan.
5.      Dapat menunjukan potensi kelemahan organisasi
Kelemahan bagan organisasi
1.      Masih banyak hal yang tidak jelas dan tidak ditunjukan.
2.      Tidak menunjukan berapa besar tingkat wewenang dan tanggung jawab.
3.      Tidak menunjukan hubungan informal dan saluran komunikasi

10.2.2.6. Bentuk bagan organisasi
Menurut Henry G. Hodges, Management principles, prantice and problem, terdapat empat bentuk, yaitu :
1.      Bentuk pyramid
2.      Bentuk vertical
3.      Bentuk horizoltal
4.      Bentuk lingkaran

10.2.3. Pelaksanaan – Pengarahan
Aktivitas fungsi manajemen selanjutnya adalah actuating atau pelaksanaan atau pengarahan, merupakan aktivitas terpenting dalam konsep manajemen dan mengarah kepada hubungan manusia di dalam organisasi.
Pengarahan di definisiakan sebagai proses menuntun kegiatan – kegiatan para anggota organisasi ke arah yang tepat. Arah yang dapat menghantarkan pada tercapainya tujuan dari system manajemen.
Menurut , George R. Terry, mengemukakan bahwa actuating adalah usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut
Maka pelaksanaan (actuating) merupakan suatu upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya

10.2.3.1. Komponen Proses Pengarahan
Pada pengarahan terdapat konsep mempengaruhi orang lain, atau disebut dengan istilah influencing , kemampuan ini akan menentukan keberhasilan seorang manajer. Dalam proses pengarahan perlu melibatkan empat komponen, yaitu :
1.      Memimpin
2.      Memotivasi
3.      Mempertimbangkan kelompok – kelompok
4.      Berkomunikasi
  
10.2.3.2. Prinsip Pengarahan
Pengarahan merupakan aspek hubungan antar manusiawi dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaga kerja efektif serta efesien untuk mencapai tujuan.
Dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia, menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Pengarahan yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada beberapa prinsip, yaitu:

a.       Prinsip mengarah pada tujuan
Bahwa makin efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan terhadap usaha mencapai tujuan. Dalam melaksanakan fungsi pengarahan perlu mendapatkan dukungan/bantuan dari faktor-faktor lain seperti perencanaan, struktur organisasi, tenaga kerja yang cukup, pengawasan yang efektif dan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan bawahan.

b.      Prinsip keharmonisan dengan tujuan
Orang-orang bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang kemungkinan tidak sama dengan tujuan perusahaan. Hal ini dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang  baik akan mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang wajar. Sedang kebutuhan akan terpenuhi apabila mereka dapat bekerja dengan baik, dan pada saat itulah mereka menyumbangkan kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi.

c.       Prinsip kesatuan komando
Prinsip kesatuan komando untuk menyatukan arah tujuan dan tangggung jawab para bawahan. Jika para bawahan hanya memiliki satu jalur didalam melaporkan segala kegiatannya. Dan hanya ditujukan kepada satu pimpinan saja, maka pertentangan didalam pemberian instruksi dapat dikurangi, serta semakin besar tanggung jawab mereka untuk memperoleh hasil maksimal.

10.2.3.3. Elemen Pengarahan
Elemen – elemen pengarahan yang dapat digunakan dalam manajemen untuk mengarahkan karyawan agar sesuai dengan tujuan perusahaan dan pencapaian tujuan perusahaan efektif dan efisien.
Elemen – elemen pengarahan sebagai berikut :
1.      Coordinating
Menurut George R. Terry , merupakan fungsi yang harus di lakukan oleh seorang manajer dapat melakukan komunikasi dari berbagai kepentingan dan perbedaan kepentingan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

2.      Motivating
George R. Terry memberikan pandangan bahwa motivasi merupakan salah satu elemen penting dalam manajemen perusahaan, dengan memberikan fasilitas yang baik dan gaji yang cukup maka kinerja para karyawan dalam perusahaan akan optimal dan efektif.

3.      Communication
Menurut George R. Terry, komunikasi antara para pimpinan dan karyawan sangat di perlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan menjalin komunikasi yang baik maka akan menimbulakan suasana kerja yang kondusif di perusahaan dan menumbuhkan sikap teamwork yang baik dalam berbagai kegiatan perusahaan.

4.      Commanding
Pemberian perintah harus di perhitungkan dan di pertimbangkan agar memberikan efek atau pengaruh positif di dalam perusahaan. Menurut Prajudi Atmosudirdjo, Dengan pengarahan yang baik dari para atasan dengan visi dan misi yang jelas dari suatu manajer perusahaan dapat menimbulkan efek yang positif untuk perusahaan, teamwork yang baik dan dapat memunculkan decision maker yang bagus. Decision maker dan teamwork dalam suatu perusahaan adalah kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan perusahaan seefektif dan seefisien mungkin.

Menurut George R. Terry, bahwa fungsi actuating – pengarahan tercakup dalam lima sub fungsi manajemen yaitu : Communicating, Leading, Directing, motivating dan Facilitating.

10.2.3.4. Tahapan Pengarahan
Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang penting dan langsung berhubungan dengan karyawan di dalam organisasi, Dalam pengarahan seorang atasa dapat memberikan pengarahan dalam tiga tahap, yaitu :
  1. Memberikan motivasi, inspirasi, semangat atau dorongan kepada setiap karyawan untuk bekerja sesuai harapan untuk mencapai tujuan perusahaan. Menurut Muninjaya, hal ini disebut dengan motivasi, motivasi merupakan proses seorang manajer merangsang bawahan untuk bekerja dalam rangka upaya mencapai sasaran organisasi sebagai alat untuk  memuaskan keinginan pribadi .
  2. Menurut Nuraida , memberikan kesempatan pengembangan diri melalui pemberian Pendidikan dan pelatihan.
  3. Pengarahan yang dilakukan dengan memberikanpetunjuk yang benar, jelas dan tegas. Menurut Muninjaya bahwa saran atau instruksi kepada sta dalam pelaksanaan tugas har diberikan dengan jelas agar setiap tugas dapat dilaksanakan dengan baik terarah kepada tujuan yang sudah ditetapkan.
  4. Menurut Herujito, bahwa berkomunikasi secara efektif.

10.2.4. Pengendalian
Pengendalian merupakan fungsi manajemen yang menentukan proses manajemen dan keterampilan yang harus di miliki oleh seorang manajer.
Pengendalian merupakan proses pemantauan aktivitas untuk menjamin bahwa standar dapat dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan dan melakukan langkah koreksi terhadap penyimpangan yang berarti.
Yang menjadi ukuran pengendalian adalah standar. Standar merupakan pedoman atau tolak ukur atau perbandingan yang ditetapkan untuk dasar pengukuran atau suatu pernyataan mengenai hasil yang diharapkan.
Fungsi dari fungsi pengendalian adalah :
  1. Untuk mencegah terjadinya  penyimpangan atau kesalahan dengan melakukan pengendalian secara rutin, ketegasan dan pengawasan dan dengan pemberian sanksi terhadap terjadinya penyimpangan.
  2. Memperbaikan setiap penyimpangan yang terjadi, dengan pengendalian dapat diusahakan cara – cara perbaikan, terutama terdapa penyimpangan yang sudah terjadi.
  3. Dibuat organisasi dinamis, dengan pengendalian diharapkan dapat mencegah dan mengurangi tingkat penyimpangan yang terjadi dan dapat mencegah terjadi penyimpangan.
  4. Mempertebal rasa tanggung jawab, harapannaya adalah setiap karyawan memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan, dengan adanya system pengendalian.


10.2.4.1. Jenis Pengendalian
Pengendalian dalam manajemen mengikuti pola pada proses system, yaitu input, proses dan output. Jenis pengendalian yang memfokuskan pada proses system, adalah :
A.    Metode pengendalian umpan maju
Metode ini disebut dengan istilah pengedalian untuk mengantisipasi masalah sebelum terjadi. Metode ini dengan membuat berbagai standar kualitas dan kuantitas terdapat berbagai input – masukan. Manajer harus sudah membuat standar mutu untuk menghindari penyimpangan.

B.     Metode pengendalian berjalan atau bersamaan
Dikenal dengan istilah mengelola masalah pada saat terjadi, metode ini memerlukan standr perilaku, kegiatan dan pelaksanaan atau prosedur dari setiap aktivitas. Dibutuhkan hasil observasi dari first line manager. Tindakan korektif – perbaikan ditujukan kepada perbaikan kualitas dan kuantitas sumber daya dan operasi perusahaan.

C.     Metode pengendalian umpan balik
Metode ini disebut juga mengelola masalah setelah terjadi, dengan menentukan standar kualitas dan kuantitas terhadap setiap output – keluaran. Tindakan korektif di lakukan setelah output dikembalikan oleh konsumen.

10.2.4.2. Proses Pengendalian
Proses pengendalian merupakan pengukuran kemajuan kegiatan berdasarkan perencanaan yang telah di tetapkan dalam rangka tujuan organisasi dan dievaluasi dan mencari alternatif pemecahan untuk menyelesaikan masalah.
Proses pengendalian terdiri dari empat langkah yaitu :
A.    Penentapan standar kinerja, target sebagai dasar untuk evaluasi
B.     Pengukuran prestasi atau kinerja nyata
C.     Membandingak kinerja nyata dengan standar kinerja yang ditetapkan.
D.    Mengevaluasi hasil dan melakukan tindakan koreksi jika standar tidak tercapai.

10.2.4.3. Sistem Pengendalian Yang Efektif
Sistem pengendalian yang dapat dikatakan diandalkan dan efektif mempunyai karakteristik tertentu yang sifatnya relatif. Dan memilik ciri-ciri seperti berikut ini.
a.       Akurat.
Informasi tentang hasil prestasi kerja harus akurat. Mengevaluasi ketepatan informasi yang diterima merupakam salah satu tugas pengendalian paling penting yang dihadapi manajer.
b.      Tepat waktu.
Informasi hendaknya segera dimanfaatkan untuk pengambilan tindakan yang tepat terhadap suatu masalah agar menghasilkan perbaikan.
c.       Objektif dan komprehensif.
Informasi yang akan digunakan untuk pengawasan harus dapat dipahami dan dianggap objektif. Sistem informasi yang sulit dipahami akan mengakibatkan kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
d.      Dipusatkan pada titik pengendalian strategis.
Pengendalian harus dipusatkan pada area di mana kemungkinan terjadinya penyimpangan relatif banyak, juga pada area di mana tindakan koreksi dilaksanakan dalam waktu serta tempat yang tepat hingga efektif.
e.       Ekonomis.
Biaya pengendalian hendaknya lebih sedikit atau paling banyak sama dengan keuntungan yang diperoleh dalam sistem itu. Caranya ialah bahwa pengeluaran hendaknya minimal dengan hasil yang hendaknya optimal.
f.       Realistis dari organisasi.
Sistem pengendalian harus dapat di gabungkan dengan realitas organisasi.
g.      Fleksibel.
Secara umum semua organisasi berada pada lingkungan yang tidak stabil sehingga perubahan-perubahan yang terjadi perlu diantisipasi. Bentuk antisipasi ini perlu didampingi dengan pengawasan agar jalannya organisasi tetap sesuai dengan harapan.
h.      Perspektif dan operasional.
Sistem pengawasan yang efektif harus dapat mengidentifikasikan tindakan korektif apakah yang perlu diambil. Informasi harus sampai dalam bentuk yang umum di tangan orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengambil tindakan yang diperlukan itu.
i.        Diterima oleh anggota organisasi.
Bahwa sistem pengendalian dapat menghasilkan perstasi kerja yang tinggi di kalangan para anggota organisasi dengan membangkitkan perasaan bahwa mereka memiliki otonomi, tanggung jawab, dan kesempatan untuk mencapai kemajuan. 


Daftar Pustaka
1.         Daft, Richard (2003), Manajemen, Edisi ke-5, Jilid 1 dan 2, Erlangga, Jakarta
2.         Dimas, 2010, Dasar – dasar Manajemen Actuating,STPB, Bandung
3.         F. Delmar dan S. Shane, "Does Business Planning Facilitate the Development of New Ventures" Strategic Management Journal, December 2003, pp. 1165—1185.
4.         Griffin, Ricky W., and Ebert, Ronald J., 2006, Business, 8th edition, Pearson Education Inc., New Jersey.
5.         Griffin (2005), Fundamental of Management, 4th Ed., Houghton Mifflin Company
6.         Madura, Jeff, 2007, Introduction to Business, 4th edition, South-Western College Publishing, USA.
7.         Mosley, Donald C. dan Paul H. Pietri (1975) : The Art Of Working With And Through People.
8.         Hanafi, Mamduh M. (2003), Manajemen, Edisi Revisi, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
9.         N.Nuryesrnan M, Moral dan Etika Dalam Dunia Bisnis, Bank dan Manajemen, Mei/Juni 1996.
10.     Robbins, S. and Coulter, M. (2002), Management, 7th Ed., Prentice Hall, Inc. Upper Sadle River, New Jersey.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar